Surat Basis November 2013

Pada saat kita merayakan Pesta Santo Pelindung kita ini, marilah merenungkan beberapa aspek penting kehidupan religius kita.

Para Suster yang terkasih, dalam kesempatan yang berharga ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda pesan dari Bapa Paus Franciscus. Selama pertemuan para Pemimpin Religius Perempuan di seluruh dunia (UISG), beliau menekankan poin penting dalam menghayati panggilan religius.

Salah satu pesan inspirasionalnya yang beliau tekankan yang dapat kita dalami bersama adalah tentang peran kita sebagai ‘ibu’. Beliau menghimbau agar kita mewujudkan keibuan kita yang sejati. Sebagai biarawati yang mengikrarkan kaul kemurnian, penting bagi kita untuk mengembangkan keibuan kita. Dengan ini beliau mengacu pada kesuburan panggilan kita yakni kesuburan spiritual. Sebagai religius kita harus berbuah, kesuburan spiritual harus menjadi perhatian kita. Sebagai contoh beliau menunjuk keibuan spiritual Maria sebagai Bunda Gereja.

Para Suster yang terkasih, dengan pesan Bapa Paus yang meng-inpirasi dalam pikiran kita, mari kita melihat secara mendalam kehidupan kita sendiri. Bagaimana kita berbuah dalam kehidupan kita sebagai suster CB dan pelayanan kita dalam Kongregasi? Berapa banyak buah-buah roh yang kita hasilkan? Kita bisa merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini dan terus menerus menantang diri sendiri dalam perjalanan kehidupan Kongregasi.

Marilah kita menelusuri kemungkinan untuk mengembangkan keibuan kita. Pertama-tama kita bisa belajar dari pendiri kita, Elisabeth Gruyters. Kita menyebutnya Bunda Elisabeth. Ketika kita menyebutnya ‘ibu/bunda’ apa yang sebenarnya kita maksudkan dengan kata ‘ibu/bunda’? Apakah kita menyebutnya dengan semua kualitas sebagai seorang ibu? Apakah kita menyadari bahwa ketika kita menyebutnya ‘ibu/bunda’, kita menyebutnya dengan penuh hormat dan pengargaan?

Kita mewarisi Kharisma “Cinta belarasa Yesus Kristus yang Tersalib dan tanpa syarat”. Pengalaman cinta tanpa syarat dan belas kasih telah membentuk pribadi Bunda Elisabeth menjadi seorang yang sangat religius yang sungguh-sungguh menghayati cinta yang sama. Hal ini tidak sulit bagi kita untuk mengenal kualitas keibuannya bila kita melihat riwayat hidupnya. Cintanya yang penuh kasih sangat jelas dalam perjalanan hidupnya yang panjang. Bahkan jauh sebelum ia mendirikan Kongregasi ini.

Seorang ibu mengungkapkan kasih sayang yang mendalam terhadap anak-anaknya yang tercinta. Ia memiliki intuisi yang kuat untuk melindungi anak-anaknya yang masih polos dan tidak menyadari bahaya di sekitar mereka. Ia akan membela anaknya yang tak berdaya. Dengan hatinya yang penuh kasih seorang ibu mampu melindungi anak-anaknya sejak saat mereka dilahirkan. Dia bersedia untuk berbagi cintanya bahkan hidupnya sendiri untuk kesejahteraan anak-anak tercintanya. Seorang ibu bahkan bersedia untuk menumpahkan darahnya sampai tetes terakhir bagi kehidupan anak-anaknya. Hatinya yang penuh kasih memungkinkan seorang ibu untuk mengorbankan segalanya demi anaknya.

Kita dapat melihat hati yang berbelas kasih dan berbela rasa yang sama, dalam kehidupan Bunda Elisabeth. Menjadi orang yang dicintai tanpa syarat oleh Yesus Sang Kekasih, hal itu mengubah hidupnya menjadi hidup untuk melayani orang lain. Keibuannya yang penuh kasih nampak jelas dari keinginannya berkorban demi keselamatan orang lain.
Dia tidak pernah menumpahkan darah sebagai seorang ibu untuk melahirkan bayi. Tetapi dia bersedia memberikan ‘darahnya’ sendiri selama orang lain bisa hidup. Dia berkata: ‘… aku bersedia menderita ini hanya demi cinta Allah dan demi cinta Yesus aku rela diomong-omongkan dan dikritik, dikoyak-koyak digiling laksana gandum, asal aku bisa menghibur orang miskin sakit dan memberi mereka bantuan’. (EG. 117)
Kita bisa bertanya pada diri sendiri, sebagai suster CB seberapakah kita berbuah. Bahkan kita dapat menantang diri kita sendiri dengan mempertanyakan apakah hidup kita berbuah cukup atau tidak berbuah sama sekali, bahkan sampai menjadi ‘perawan tua’ (kata ini dikatakan oleh Paus Francis selama audiensi dengan Pemimpin Umum). Ada cara untuk mengukur apakah sebagai suster CB hidup kita berbuah atau sia-sia. Apakah kita akan mengukur kesuksesan kita dengan melihat keberhasilan atau kegagalan kita dalam pelayanan kita? Apakah kita akan mengukurnya dengan melihat bahwa hidup kita menghasilkan buah-buah rohani? Kita dapat mengukur keberhasilan keibuan kita dengan menunjuk pada keberhasilan dan banyak produk atau penghargaan besar dalam pelayanan kita. Kita juga dapat mengukur dengan menghitung berapa banyak bangunan sekolah, rumah sakit, klinik, panti asuhan, yang kita bangun selama pelayanan kita dalam Kongregasi. Namun prestasi materi ini tidak menjamin kesuburan kita sebagai suster CB. Sebaliknya buah-buah rohani yang kita hasilkan dalam pelayanan kita dan kehidupan berkomunitas kita dapat diukur dengan seberapa banyak kita berbagi cinta dan kehidupan dalam pelayanan kita.

Karena itu, marilah kita mengukur keibuan kita dalam berbagi kepada orang lain, belas kasih dan cinta kita tanpa syarat seperti yang dilakukan Bunda Elisabeth dan Santo Pelindung kita, St. Carolus Borromeus
Dalam pribadi dua orang besar ini kita melihat pengorbanan mereka yang terus menerus dan tak terukur. Kita dapat melihat perjuangan Bunda Elisabeth yang tanpa akhir demi kesejahteraan dan keselamatan orang lain. Dia tidak memikirkan keuntungan diri sendiri. Dia akan memberikan segalanya agar orang lain memperoleh kehidupan kekal. Dia rela menderita bagi orang miskin dan mereka yang tersisihkan. Cinta dan perbuatan ini juga menandai kehidupan Santo Pelindung kita, St. Carolus Borromeus.

Para suster yang terkasih, pada hari raya ini marilah kita bersyukur atas dua orang ini dalam Kongregasi kita. Bunda Elisabeth dan St. Carolus Borromeus menginspirasi kita dengan cinta mereka yang penuh belas kasih. Dengan inspirasi mereka ini kita berharap agar kita juga terus menerus dapat mengembangkan hati penuh belas kasih yang tanpa henti bersedia berkorban agar orang lain memiliki kehidupan. Marilah kita menjamin bahwa hidup kita menghasilkan buah-buah rohani yang berlimpah.

“Selamat Pesta”

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.