Surat Basis November 2012

Sebagaimana telah kami informasikan sebelumnya, bahwa pada bulan September yang lalu kami menyelenggarakan pertemuan Tim Pembina Internasional bersama dengan para Pembina untuk bina awal. Kami memaknai pertemuan ini sebagai kesempatan untuk mengadakan pembaharuan atau pembangunan kembali. Dalam Direktorium untuk Pembinaan dalam Hidup Bakti ditulis bahwa pembaharuan yang tepat bagi kongregasi hidup bakti sangat bergantung pada pembinaan anggotanya. Dengan demikian, mengacu kepada dokumen ini, maka setiap anggota berperan serta dalam proses pembaharuan Kongregasi karena rahmat yang diterimanya dalam berbagai upaya pembinaan. Melalui surat basis ini kami mengajak para suster semua bukan hanya mereka yang terlibat langsung dalam pelayanan pembinaan, untuk mengambil bagian dalam proses pembaharuan atau pembangunan yang berkesinam-bungan bagi Kongregasi kita.

Pembaharuan atau pembangunan kembali Kongregasi dapat terjadi setiap hari dalam hidup kita. Menciptakan pembaharuan tidaklah perlu menunggu sampai terjadi sesuatu yang luar biasa atau perubahan yang dahsyat. Pada dasarnya setiap anggota dapat menjadi pemeran utama dalam membawa angin segar perubahan sesuai dengan kemampuan dan peran kita.
Perfectae Caritatis memberi arahan akan pembaharuan dalam hidup religius dengan menekankan pentingnya kembali ke sumber hidup Kristiani dan Spiritualitas Kongregasi serta penyesuaiannya terhadap situasi jaman sekarang.

Kita dipanggil untuk selalu kembali ke sumber hidup Kristiani. Tujuan utama dan terutama dari pembinaan dalam Kongregasi suster CB adalah untuk mengikuti Jesus Kristus dan untuk semakin menyerupai Dia. Kita senantiasa bergerak untuk semakin bersatu dengan Dia. Ini merupakan perjalanan untuk meneladan Dia secara khusus dalam relasi-Nya dengan Allah Bapa-Nya. Jesus mendengarkan, menerima dan melaksanakan kehendak Allah dan mewujudkan kesanggupan-Nya dengan berani menerima konsekuensi dari pilihan-Nya. Dia menunjukkan kepada kita cinta-Nya yang besar kepada Bapa dengan mengorbankan diri dan memberikan hidup-Nya kepada semua orang sebagai jaminan keselamatan bagi mereka. Sesudah menyerahkan hidup karena kasih-Nya kepada Allah dan manusia, Dia pun mengutus para murid untuk mengikuti-Nya. Ini jugalah yang menjadi tujuan utama dalam pembinaan untuk menjadi suster CB; sederhana saja MENGIKUTI DIA.

Kita sudah memilih untuk mengikuti Jesus Kristus secara khusus dengan menjadi anggota Kongregasi ini. Dengan demikian cara kita mengikuti Dia pun unik, atau khas institusi CB. Inspirasi dari pendiri, Bunda Elisabeth menjadi panduan bagi kesetiaan kita menempuh cara hidup-Nya dan senantiasa menyerupai Dia. Perjalanan kita mengikuti Dia menjadi berbeda karena dalam membangun relasi yang semakin intim dengan Jesus kita pun bergerak untuk semakin menjadi suster CB yang sejati. Identitas kita sebagai suster CB semakin kuat sejalan dengan kedalaman relasi kita dengan Jesus sebagaimana diteladankan oleh Bunda Elisabeth. Proses pembinaan akan membantu kita untuk menghayati semangat Bunda Elisabeth dalam mewujudkan cita-cita kita mengikuti Kristus. Pembinaan akan memperkuat jati diri kita sebagai suster CB serta memperdalam upaya penghayatan Spiritualitas Kongregasi dengan penuh semangat. Proses ini akan membuat kita semakin mencintai dan bangga sebagai anggota Kongregasi.

Pembinaan dapat dipandang sebagai proses untuk pemurnian dan pendewasaan. Dalam satu sisi dengan mengikuti pembinaan yang terus menerus kita diundang untuk senantiasa memurnikan motivasi dalam mengikuti Dia. Pemurnian ini tidaklah selesai ketika kita meninggalkan novisiat atau mengucapkan kaul kekal. Seringkali banyak motivasi yang masih berpusat pada diri sendiri meskipun kita sudah memasuki taraf tertentu dalam hidup religius maupun dalam usia. Agar motivasi senantiasa terarah pada tujuan untuk mengikuti Kristus dalam kepenuhannya sesuai tradisi hidup Kongregasi ini, maka kita harus memurnikannya dalam latihan-latihan sehari-hari. Kita belajar dari Bunda Elisabeth proses pemurnian motivasi yang sangat panjang sebelum dia mendirikan Kongregasi ini. Dia berkanjang dalam doa. Akan tetapi kita tahu bahwa pada awalnya dia memohon untuk dirinya sendiri, agar diterima di sebuah biara. Sesudah perjalan panjang diiringi dengan derita dan doa maka akhirnya motivasinya pun dimurnikan. Kini dia tidak minta untuk dirinya sendiri, tetapi menyerahkan keinginannya kepada kehendak Allah. Dia dapat mengatakan “jika berkenan kepada Tuhan” (EG ). Teladan ini memberi inspirasi kepada kita untuk sabar dan berani mengalami proses purifikasi.

Proses pemurnian sangat diperlukan karena kadang secara tidak sadar motivasi-motivasi duniawi menyelinap dalam kehendak kita. Motivasi ini dapat membelokkan arah kita untuk mengikuti dan mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap tenaga, serta untuk mencintai sesama seperti diri sendiri (Bdk Tujuan Kongregasi, Konstitusi hal 7). Pembinaan dan bina diri yang berkelanjutan menjadi penunjuk arah bagi perjalanan kita. Dengan melakukan bina diri kita dapat melihat jalan yang benar, serta terbantu untuk mengarahkan langkah kepada tujuan akhir pilihan kita, persatuan dengan Sang Pembina utama, Allah Bapa kita.

Pembinaan juga merupakan proses untuk pendewasaan. Perkem-bangan kematangan dalam hidup religius juga berarti pendewasaan semua aspek hidup manusia. Kematangan ini tidaklah terbatas pada hal-hal rohani saja, melainkan dalam seluruh dimensi kepribadian termasuk psikologi, budaya, afeksi, emosi dan sosial. Pembinaan merupakan proses seumur hidup. Proses ini memerlukan adanya pertobatan yang sejati yang akan membawa kepada sebuah transformasi. Pertobatan yang sejati membawa kita kepada perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru dalam Kristus. Dengan kata lain kita diajak untuk senantiasa mengenakan Kristus dalam kehidupan harian (bdk Galatia 5,16) dengan meninggalkan keinginan daging dan mengarahkannya kepada hal-hal yang menuntun kita untuk dapat bersatu seutuhnya dengan Tuhan Jesus. Hal ini hanya dapat terjadi karena karya rahmat Illahi dalam diri kita. Akan tetapi dari kita diperlukan upaya yang terus menerus, keterbukaan serta penyerahan diri kepada karya rahmat-Nya.

Upaya untuk mengenakan Kristus memerlukan disiplin diri dan matiraga tertentu dan berlangsung terus menerus. Dunia menawarkan berbagai macam kesenangan dan impian. Tanpa sadar kita dapat terseret arus dunia ini yang sering memamerkan pesonanya dengan cara-cara yang sangat halus. Bunda Elisabeth menasehati agar kita selalu waspada dalam menghadapi jebakan keindahan dunia ini. Dia mengajak kita untuk mengenakan senjata rohani agar tidak terpengaruh oleh tawaran duniawi (EG 70).

Perkembangan kematangan seseorang dan integritasnya sejalan dengan kedalaman relasinya dengan Tuhan. Jika dia selalu mengenakan Kristus maka dia akan membuang egoismenya dan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dalam hidup. Kita dapat meneladan integritas Bunda Elisabeth yang nampak ketika dia mau mengirim para suster untuk diutus menjalankan tugas. Kualitas kepribadian dan rasa hormatnya kepada orang lain tercermin dalam sikapnya. Dalam EG. 153 dia menulis “…semua itu harus disertai dengan cintakasih dan tenggang rasa. Para pemimpin hendaknya jangan mencari kepentingan diri sendiri, agar tidak memberikan kesan seakan-akan ia ingin menguasai atau memerintah”.

Sebagai pengikutnya kita belajar meneladan cara hidupnya dengan berkomitmen untuk menghayati Spiritualitas yang diwariskannya kepada Kongregasi dan Gereja. Pembinaan yang berkelanjutan akan menghantar kita untuk semakin memahami dan menghidupi warisan spiritualitasnya. Upaya untuk lebih tulus menghidupi dan juga meneruskan Spiritualitas ini menuntut dari kita komitmen seumur hidup. Sebagai anggota Kongregasi selayaknya kita setia meng-hayatinya dalam kehidupan rutin sehari-hari. Hanya jika proses menghayati dan menghidupi ini terintegrasi dalam upaya bina diri para anggotanya, maka dijamin proses pembaharuan atau pembangunan kembali terjadi dalam Kongregasi kita.

Pada hari peringatan Santo Carolus Borromeus ini, layaklah kalau kita juga menimba inspirasi darinya sebagai seorang tokoh pembaharu dalam Gereja. Dia berjuang untuk membaharui Gereja dengan memperhatikan pembinaan kaum muda. Dia mendirikan seminari untuk memberikan pendidikan serta persiapan yang lebih baik bagi para calon imam. Santo Carolus juga mempromosikan studi, menanamkan kedisiplinan dalam biara kontemplatif, serta mendirikan ordo dan kongregasi. Lebih dari semuanya itu, dia menunjukkan buah dari bina diri dalam kesetiaannya untuk mengikuti dan meneladan Tuhan Yesus. Dia menghayati semangat pengorbanan dan disiplin diri yang kuat. Perjalanan hidupnya diakhiri dengan menunjukkan komitmen penuh dalam cinta kepada Tuhan dan umat yang dilayaninya. Dia menjadi agen pembaharu dan dalam dirinya menunjukkan sebuah peristiwa transformasi ketika menyerahkan hidupnya dalam persatuan penuh dengan Tuhan.
Para suster yang terkasih, marilah kita meningkatkan komitmen untuk terlibat dalam proses pembaharuan diri sebagai suster CB dengan secara setia melaksanakan proses bina diri yang berkelanjutan. Agar pembaharuan dapat terjadi maka setiap suster haruslah bertanggung jawab bahwa dirinya adalah agen pelaksana dari pembaharuan itu. Untuk itu maka pembinaan semestinya pertama-tama buahnya dirasakan secara pribadi oleh suster sendiri. Marilah merefleksikan rahmat yang kita terima melalui pembinaan yang diberikan oleh Kongregasi dengan merenungkan apakah dan sejauh mana kepribadian saya bertumbuh? Apakah saya menjadi berkat bagi komunitas? Dan akhirnya apakah pembinaan itu menjadi sumber inspirasi bagi pelayanan kerasulan saya?

Semoga semangat Bunda Elisabeth dan keteladanan Santo Carolus Borromeus menjiwai komitmen kita untuk terlibat dalam meningkatkan kehidupan Kongregasi kita tercinta ini.

Selamat Pesta

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.