Surat Basis Agustus 2014

Merayakan hari pesta terangkatnya Bunda Maria ke surga mengingatkan kita selalu akan kehidupan Bunda Maria dan Bunda Elisabeth dalam persatuan intim mereka dengan Allah. Kedua perempuan ini, memiliki peran besar dan menjadi teladan bagi kita sebagai religius, serta terus menginspirasi dan menantang kita.

Setahun yang lalu, bersama-sama, kita telah merefleksikan gambaran diri dari kedua perempuan tersebut dalam kehidupan kita. Spiritualitas mereka sangat sederhana: keduanya mendengar firman Allah dan mempraktekkannya melalui tindakan mereka. Bunda Maria dipilih oleh Allah dalam rangka mewujudkan karya keselamatan melalui dirinya. Ini membutuhkan ‘Ya’ (persetujuan Bunda Maria). Tanpa kebebasan serta kerjasamanya yang penuh, tidak akan terjadi sesuatupun. Dia mendengar ucapan Malaikat: “… engkau terpuji diantara para perempuan … Tuhan besertamu” (Luk 1:28). Ia menjawab pesan malaikat itu dengan imannya yang seperti iman seorang anak kecil: “…sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38). Sedangkan Bunda Elisabeth, ia melihat situasi di sekelilingnya dan setelah bertahun-tahun berdiam dalam doa, ia mempercayakan keinginannya kepada Tuhan: “…semakin hiduplah imanku, semakin teguhlah harapanku, dan cintakasih yang bernyala-nyala disertai cucuran air mata, memberi aku ketenangan jiwa yang membahagiakan; tiba-tiba terdengar olehku persetujuan yang suci itu dari Surga, dan kata persetujuan itu tidak lain daripada ini; Itu akan terjadi (EG 6). ‘Ya’ mereka telah mengubah hidup mereka selamanya. Mereka tegas dan mampu mengatasi cobaan yang dihadapi sehari-hari karena kesetiaan Allah dan kasih-Nya kepada mereka serta tanggapan pribadi mereka kepada-Nya (pengalaman mistik).

Seiring berjalannya waktu, mari kita ingat kembali ‘Ya’ dari setiap pribadi kita, ketika kita menjawab undangan-Nya untuk masuk biara. kata ‘Ya’ yang pertama kita ucapkan dalam profesi pertama di tengah-tengah saudara kita, keluarga dan orang-orang beriman. Kemudian ingat juga respon harian kita kepada-Nya dari saat itu, dan banyak inspirasi dan juga tantangan dalam kehidupan kita.

Kali ini kita akan melanjutkan renungan kita akan kedua perempuan tersebut dalam hidup kita, dengan mempertimbangkan perjalanan iman mereka dan sekarang kita akan menitikberatkan pada tanggapan melalui perbuatan mereka /aksi; perjalanan kenabian mereka. Dari pengalaman intens mereka akan Bapa, tumbuh dalam diri mereka misi dari-Nya dan mengungkapkan hal itu dalam kehidupan pelayanan kasih.
Ketika Bunda Maria memberikan ‘ya’-nya untuk undangan Allah melalui Malaikat dan ketika Bunda Elisabeth memulai Kongregasi, kedua perempuan ini menghadapi tantangan dalam hidup keseharian mereka.

Kehidupan mereka bukanlah kehidupan yang bebas dari stres. Mari kita melihat perjalanan Bunda Maria ketika dia bersama dengan Yesus, serta mengikuti anaknya yang tercinta itu seolah olah Dia (Yesus) adalah misinya (Bunda Maria). Bunda Maria selalu ada bersama-Nya bahkan ketika kadang-kadang dia tidak memahami tanggapan dan reaksi dari Yesus seperti ketika dia dan Yusuf sedang mencari Yesus: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? ….. aku dengan cemas mencari Engkau.” (Luk 2:48) dan jawaban dari Yesus yang waktu itu berusia dua belas tahun padanya,” …tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku? “(Luk 2:49). Terkadang kita tidak perlu mengatakan banyak hal dan hanya berdiam seperti yang telah dilakukan Bunda Maria. Pada perkawinan di Kana: “…Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu? Saat-Ku belum tiba.” (Yoh 2: 4) tetapi Bunda Maria melanjutkan kepada pelayan-pelayan disitu, “… apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2: 5). Ada banyak contoh lain dalam Alkitab yang berkaitan dengan hubungan yang mendalam antara Bunda Maria dengan Bapa dalam perjalannannya bersama-sama dengan Yesus dan bagaimana dia ditantang selama perjalanan itu berlangsung. Lalu apa yang dia kemudian rasakan, berada bersama Yesus dalam perjalanan penyaliban dan kebangkitan-Nya? Dia merenungkan semua ini dalam hatinya serta menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Persekutuan Bunda Maria dengan Allah membuat ia mampu merespon sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan tanda-tanda disaat itu. Hal ini membuat imannya semakin kuat.

Hidup Bunda Elisabeth juga tidak selalu seindah bunga mawar. Selalu ada pertarungan antara ego diri sendiri dan kehendak Allah. Dia juga pernah mengalami bagaimana rasanya dipermalukan “… van Vloten … menghujani aku dengan caci maki….” (EG 110), tertindas dengan pengalaman di Sittard “… banyak terjadi pergantian atau perpindahan suster-suster…. “(EG 158), tetapi juga merasa bersyukur dan bahagia”…. Jumlah suster meningkat dan jenis karya meluas, lagipula pengalaman sehari-hari disertai hasrat besar akan kemajuan rohani … menjadikan kami merasa setiap hari diberkati oleh tangan Tuhan yang tak kelihatan “(EG 63). Kita mendapat sebuah gambaran dari kisah hidupnya bahwa ia selalu dalam persekutuan dengan Tuhan dalam melakukan semua tindakan dan ia menaruh kepercayaan penuh hanya di dalam Tuhan. Ia selalu berkonsultasi dalam keputusan dan tindakan yang ia buat.

Mungkin, Anda juga mengalami kehidupan yang penuh warna sejak terakhir kali Anda menjawab undangan-Nya. Anda telah melihat impian Anda dijungkir-balikkan. Masa depan anda tampak berbeda seperti apa yang Anda rencanakan. Anda harus menyadari bahwa perjalanan kenabian Anda dengan Tuhan adalah sebuah perjalanan yang unik. Seperti Bunda Maria, Anda akan memiliki periode dimana peran kenabian anda disingkapkan; waktu kehancuran; keletihan; waktu keberhasilan dalam pelayanan, dll. Semua hal ini mengarah pada salib dan kematian dari segala sesuatu yang Anda pertahankan. Apakah Anda bersedia untuk terus mengorbankan diri untuk membuat rencana Allah terrealisasi di dalam kehidupan Anda?

Perjalanan Kenabian

Bunda Maria dan Bunda Elisabeth benar-benar yakin bahwa untuk hidup secara seimbang, doa dan tindakan haruslah selaras. Doa yang dilepas/pisahkan dari tindakan nyata dapat menciptakan ilusi kesucian. Ini dapat menjadi bentuk penghindaran. Sebaliknya tindakan tanpa atau terlepas dari doa adalah dangkal. Kehidupan rohani yang terbaik adalah ketika ada keseimbangan yang mendasar antara doa dan tindakan. Bagaimana penerapan doa dan tindakan ini dalam kehidupan realitas kita hari ini?

Mari kita lihat dunia kita yang selama beberapa tahun terakhir dan sampai saat ini sedang menghadapi krisis keuangan. Kita juga mendengar bahwa banyak perusahaan dan lembaga-lembaga yang berada dalam masa krisis. Berita seperti pekerja-pekerja yang diberhentikan dari pekerjaan mereka, kejahatan, perampokan, dll adalah efek dari itu. Ini semua adalah bagian dari sistem yang bila satu saja dari sistem tersebut “tidak berjalan dengan baik” maka akan mempengaruhi semuanya. Akan ada kekacauan di sekitar. Fakta ini mempengaruhi Kongregasi kita juga. Kita diminta untuk mempersatukan diri kita untuk mencari jalan keluar serta menanggapi kenyataan ini secara individual, komunal dan sebagai Kongregasi secara keseluruhan. Dengan cara yang konkret, ini melibatkan evaluasi ulang dari gaya hidup kita dan meninggalkan sikap individualistik kita. Seluruh kawasan dan unit diminta untuk bersatu dan menemukan cara bersama-sama untuk melakukan sesuatu dalam situasi ini.

Pada tahun 2010, kami mengadakan pertemuan internasional pertama kali untuk semua bendahara dan dewan dari Kawasan. Kami membahas dan melihat bersama krisis keuangan yang mempengaruhi Kongregasi kami. Bulan lalu, dari tanggal 1 sampai 18 Juli, pertemuan kedua untuk ekonom dan dewan dari seluruh kawasab dan unit, serta beberapa suster yang melayani di bidang keuangan dalam pelayanan kerasulan mereka. Kali ini kami berkumpul untuk memperkuat dan memperdalam pelayan kami untuk secara kongkret menghadapi situasi sekarang dan masa depan Kongregasi.

Seperti Bunda Maria, suara kenabian kita harus didengar jika kita “menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52). Berbicara mengenai kenabian, kami bersama melakukan re-evaluasi, menyalurkan energi dan mengundang para suster di kawasan untuk melihat / menghadapi dan bersama-sama menemukan cara untuk meningkatkan situasi kami. Seiring berjalannya waktu setiap orang ditantang untuk menjadi pelayan yang baik dengan meningkatkan sumber daya kita. Kita juga tidak lupa untuk membantu orang-orang disekitar kita, baik dilingkungan komunitas maupun karya. Panggilan kita adalah agar semua orang dapat mengalami curahan kasih Allah. Mudah-mudahan peran kenabian serta tindakan kita dapat menuntun orang, sehingga mereka dapat mengalami kehadiran Allah yang penuh dengan kemurahan dan kepedulian di dalam hidup mereka. Kita dapat memberi perhatian kepada setiap orang yang telah dipercayakan kepada kita melalui kerasulan Kongregasi.

Sebagai pengikut Bunda Maria dan Bunda Elisabeth, kita harus sadar dan mengembangkan ziarah hidup kita dari kontemplasi ke tindakan nyata. Kita harus memulai sesuatu yang baru didalam hidup kita.

SELAMAT PESTA !

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.