Surat Basis Agustus 2013

Pada hari ini, 15 Agustus, kami mengundang Anda untuk perjalanan bersama, untuk mengingat dan mengenang kembali kehidupan Maria, Bunda kita, yang diangkat ke surga dan kemudian dimahkotainya menjadi Ratu. Pada hari raya ini sekaligus kita juga merayakan momen pengalaman Bunda Elisabeth akan kasih karunia Allah di depan patung keramat, patung Bunda Maria Bintang Samodra. Kedua wanita ini memiliki peran khusus dalam kehidupan rohani kita serta dalam kehidupan Kongregasi. Dapatkah kita mengidentifikasikan pewahyuan dari kedua perempuan ini dalam panggilan dan dalam kehidupan kita sekarang?

Melalui citra kedua perempuan ini, marilah kita bersama-sama merefleksikan dan memperdalam pertama, mengenai persatuan mereka yang mendalam dengan Allah dan yang kedua, mengenai perjumpaan mereka yang menantang namun menumbuhkan dengan orang-orang yang unik di sekitar mereka. Orang-orang yang mendampingi, membantu, memberi inspirasi, dan orang-orang yang menolak serta menghalangi mereka dan sekaligus menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Dalam Kitab Suci, peran Maria dalam Sejarah Keselamatan telah dinubuatkan. Allah mempersiapkan perjalanannya sampai pada pertemuannya dengan Malaikat yang menyampaikan kabar gembira kepadanya. Dia tidak memahaminya namun kepercayaannya kepada Tuhan berkembang.

“… Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Alah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan“ Kata Maria kepada Malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab Malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan seungguhnya Elisabeth sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia. Yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu .” Lalu Malaikat itu meninggalkan dia. (Lk. 1: 30-38)

Pengurapan Maria ketika dia masih dalam kandungan Anna menjadikan dia pribadi yang unik. Sebagai orang terpilih, dia mulai berelasi dengan Allah melalui asuhan orangtua dan kesaksian Joakim dan Anna sejak ia masih gadis muda. Rahmat yang ia terima selama pengurapannya mengubah diri Maria menjadi manusia baru. Imannya berkembang. Kerja sama diperlukan agar rahmat Allah terlaksana. Manifestasinya yang paling mencolok akan persatuannya dengan Allah adalah ketika ia menyatakan kesediaanya di depan Malaikat setelah Malaikat mem-beritahukan kepadanya apa yang Tuhan kehendaki atas dirinya. Hal itu adalah rahmat yang mengubah dirinya.

Pengalaman serupa terjadi pula dalam diri Bunda Elisabeth Gruyters. Dalam riwayat hidupnya, ia mengembangkan kedekatannya dengan Allah sejak usia mudanya. Imannya semakin kuat dan mendalam. Dia cukup matang untuk dapat melepaskan keinginannya dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah.

“Dalam keadaan ini semakin hiduplah imanku, semakin teguhlah harapanku, dan cinta kasih yang bernyala-nyala disertai cucuran air mata, memberi aku ketenangan hati yang membahagiakan; tiba-tiba terdengar olehku persetujuan yang suci itu dari surga, dan kata persetujuan itu tidak lain dari pada ini: Itu akan terjadi. Seketika itu juga air mataku berhenti dan aku menjadi sadar kembali disertai kebahagiaan batin, rasa terhibur dan lega. Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana aku berlutut di sana, di hadapan patung keramat itu, dalam Gereja yang penuh sesak; akan tetapi meskipun orang menginjak-injak aku dan mengotori pakaianku yang terbaik, yang biasanya kukenakan pada hari raya seperti itu supaya rapi untuk menghadap Mampelai yang tercinta, karena hari itu pagi-pagi aku sudah menyambut Komuni walaupun pakaianku diinjak-injak atau menjadi kotor, aku pulang kerumah dengan merasa terhibur dan lega sekali, berkat kata persetujuan tersebut. (EG.6-7)

Pengalaman Bunda Elisabeth, selama enam belas tahun antara tahun 1820 dan 1836 adalah perjuangan panjang untuk mengembangkan relasi pribadi dengan Allah. Allah mengajarinya bagaimana berdoa, bagaimana menanggapi panggilan untuk menjadi hamba Allah, bagaimana memperdalam proses pertumbuhan relasinya dengan Allah. Kebebasan batinnya dikembangkan: untuk mempercayai dan mengikuti apa yang berkenan pada Allah. Kemampuan spiritualnya terbuka pada kehendak Allah.

Pengalaman Cinta yang bernyala-nyala akan panggilan untuk melayani Allah dan pengalaman relasi mistik dengan Allah terungkap dalam doa-doanya, jawaban ‘Ya’ dari surga didengarnya. Ia mengembangkan sikap terbuka untuk hal-hal yang berkenan kepada Allah. Apapun jenis pelayanan yang diminta Allah dari padanya tidak menjadi soal. Kita melihat hal ini dalam perjalanan hidupnya, dari kerinduannya untuk masuk biara, hingga melepaskan segala kerinduannya dan dalam kesatuannya dengan Allah memperoleh kebebasan batin untuk percaya dan mengikuti apa yang berkenan pada Allah. Dengan ambil bagian dalam penderitaan Kristus, ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus dalam keselamatan orang lain, sikap kenabiannya menjadi dasar berdirinya Kongregasi.

Dalam hidup Bunda Maria dan Bunda Elisabeth mereka mengalami relasi yang intim dengan Allah. Pengalaman mereka tidak hanya dalam level pribadi tetapi memungkinkan mereka untuk melihat apa yang terjadi di sekitar dan menggerakkan mereka untuk berbagi kehidupan dengan orang-orang yang membutuhkan. Mereka keluar melampaui batas-batas keamanmapanan mereka. Tanggapan langsung Maria setelah penyerahan diri secara total yakni mengunjungi saudara sepupunya, Elisabeth. Dengan berjalan kaki Maria menmpuh jarak jauh untuk mengunjungi Elisabth yang saat itu sedang menantikan kelahiran anaknya. Elisabeth sudah lanjut usia karena itu Maria menemani dan membantu dalam segala kebutuhannya. “…Maria tinggal bersama Elisabeth kurang lebih selama tiga bulan dan kemudian kembali ke rumah” (Luke. 1: 56). Di satu sisi Bunda Elisabeth terus melaksanakan karya cinta kasihnya bagi anak-anak sekitar di sisi lain ia tetap melaksanakan misi khususnya dalam keluarga Nijpels.

Mereka berbagi nilai-nilai hidup mereka yang mendalam yang nantinya akan berfungsi sebagai ekspresi radikal dalam mengikuti Tuhan dalam hidup mereka. Gairah dan semangat hospitalitas serta kemurahhatian mereka adalah ungkapan nyata dari pertobatan mereka pada semangat Injili. Intuisi dan semangat ini dipupuk dengan berdialog dari hati ke hati dengan Allah Sumber kehidupan dan harapan serta persahabatan mereka dengan orang-orang sejamannya. Mereka taat mendengarkan Allah, buah dari semangat kontemplatif mereka dan kesetiaan menghayati ajaran Kristus menjadi dasar yang kuat bagi mereka.

Pengalaman iman akan pembaptisan dan pertobatan membimbing dua perempuan itu untuk hidup setia dan berkomitmen bagi Allah. Dalam proses menjadi bersatu dengan Tuhan dan menanggapi panggilan-Nya, mereka selalu menyadari kehadiran-Nya dan berusaha untuk melakukan kehendak-Nya. Keberanian mereka untuk menanggapi panggilan-Nya ditopang doa kontemplatif, kembali ke sumber dari waktu ke waktu, itu semua adalah hal-hal yang membentuk mereka menjadi siapa mereka.

Marilah kita mengingat kembali pengalaman Maria setelah malaikat menyampaikan kabar gembira kepadanya bahwa ia akan mengandung Anak Allah. Dari sejak awal, ia bertemu orang-orang yang menyemangati, menantang, dan orang-orang yang menghalangi perjalanan hidupnya. Setelah menerima kabar gembira, ia pergi ke rumah sepupunya, Elisabeth. Ia berjumpa seorang perempuan yang mengerti dirinya ketika Elisabeth berkata: “Diberkatilah engkau di antara perempuan, dan terpujilah Anak yang engkau kandung! Tapi siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Lukas 1:42-43). Maria ditegaskan oleh Elisabeth. Rasakan bagaimana Maria merasa pada waktu itu. Itu merupakan persiapan untuk pengalaman selanjutnya.

Perasaan ambivalen Yosef pada awal ketika mengetahui situasi Maria dan hendak meninggalkannya, adalah saat-saat yang tidak mudah baginya. Namun demikian, ia mempercayakan segala sesuatunya kepada Allah.
Kesakitan dengan diam ia derita ketika hendak melahirkan Yesus dan bagaimana ia dan Yosef berangkat bersama-sama untuk menghindari orang-orang yang ingin mencelakai Yesus, seperti Raja Herodes. Situasi ini membuat iman dan kepercayaannya pada Allah semakin dalam dan secara emosional menjadi lebih kuat karena dengan diam ia membawa Anak Allah di tengah-tengah kesulitan yang ditemuinya di perjalanan. Kemudian ketika Yesus dalam karya-Nya sampai wafat-Nya di kayu salib, Yohanes dan Maria yang lain menyertainya untuk memberi dukungan kepadanya saat ia dengan diam menanggung penderitaan sambil memandang Putranya. Kehadiran mereka memberi kekuatan pada saat Maria berada di depan salib hingga ke makam.

Perjalanan Bunda Elisabeth adalah proses yang panjang untuk menemukan apa yang Tuhan ingin dia lakukan. Kerinduan untuk masuk biara dan menemukan kehendak Allah menjadi lebih kuat. Tak henti-hentinya ia berdoa kepada orang kudus favoritnya untuk mohon bantuan. Allah memberikan orang-orang anugerah yang menjadi sahabat dalam perjalanannya, sahabat atau orang-orang yang menghalangi, mengilhami, menantang, mendukung dan membantu dia. Ia bertemu dengan orang-orang itu, berbagi visi dan semangat. Namun tidak semua orang yakin akan kerinduannya tetapi dia tetap bertahan dan kerinduannya semakin diberdayakan. Kesatuannya dengan Allah memotivasi dirinya untuk terus menemukan kehendak-Nya. Dia mendatangi pembimbing rohani misalnya Pater Rektor di Wittem (EG 10), Fr. Ferdinand, Rektor Kongregasi Redemptoris (EG 11), Fr. Maiel, bapa pengakuan dan Deken Fr. van Baer, Deken Gereja St. Servaas. Beberapa dari mereka itu tidak begitu menggembirakan.

Dalam perjalananya ia juga bertemu dengan para wanita (EG 26) yang bergabung dengannya tetapi mereka tidak bertahan. Para Suster Cinta- kasih dari Den Bosch (EG 49) diminta untuk membantunya dalam perjalanan hidup religius. Mereka hanya tinggal beberapa waktu sebab mereka dipanggil kembali oleh pemimpin mereka. Lagi-lagi dia dan temannya ditinggal sendirian. Setelah beberapa tahun berdirinya Kongregasi, hidupnya berlangsung dengan jatuh bangun, rahmat dan tantangan. Berbagai krisis yang dihadapi membuat kehidupan batinnya selaras dengan Allah. Itulah saat-saat kesatuan yang lebih mendalam, suatu pengalaman pertumbuhan baginya.

Saat-saat transenden itu mengundang mereka untuk bertumbuh semakin mendalam dan semakin mendalam pula relasinya dengan diri sendiri, orang lain dan Allah dalam hidup mereka. Itu semua melibatkan diri mereka seutuhnya yang membimbing mereka menuju pada transformasi sebagai pribadi. Ukuran dari kerja sama pikiran dan afeksi mereka, mentalitas dan tingkah laku mereka yang bebas, secara perlahan dimurnikan dan diubah selama perjalanan hidup mereka.

Mereka mempertahankan cara-cara sehat dan suci dalam berelasi juga pada waktu terjadi konflik. “Iman bekerja melalui cinta kasih” (Gal.5: 6) menjadi kriteria baru atas pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup seseorang (lih. Rom 12:2; 2Kor 5:17). Itu semua merupakan akibat dari daya perubahan berkat persatuan mereka dengan Allah.

Pada saat kita merayakan hari pesta ini, kita dipanggil juga untuk merenungkan sejarah panggilan kita masing-masing. Seperti Bunda Maria dan Bunda Elisabeth, kita kadang-kadang juga menemukan kesulitan dalam perjalanan hidup. Kadang-kadang kita juga merasa putus asa karena jalan di depan kita gelap, dan tidak ada jawaban atau arah yang jelas. Tetapi, kita harus terus-menerus mengarahkan diri kita kepada-Nya, menemukan saat-saat tenang dan hening bersama-Nya dan setiap saat merenungkan kehendak-Nya agar semangat kita bernyala kembali untuk melakukan kehendak-Nya kini dan di sini.

Kami berharap semoga kehidupan Bunda Maria dan Bunda Elisabeth selalu menginspirasi kita dan menjadi teladan bagi kita dalam menjalani kehidupan kita sebagai Suster CB.

Selamat Pesta!

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.