Surat Basis Agustus 2012

Syukur dan pujian kita panjatkan kepada Allah yang mahabaik sehingga kita dapat merayakan hari bersejarah dalam Kongregasi. Tepatnya tanggal 15 Agustus 2012, kita memperingati peristiwa yang sungguh bermakna dalam perjalanan Kongregasi ini, seperti yang dikatakan Bunda Elisabeth dalam EG 6: “… tiba-tiba terdengar olehku persetujuan yang suci itu dari Surga, dan kata persetujuan itu tidak lain daripada ini: Itu akan terjadi”.

Rasa syukur ini mengajak kita untuk merenungkan, menggali dan mendalami kembali semangat Bunda Elisabeth. EG 6 merupakan jawaban dari Allah atas kerinduan dan atas permohonan Bunda Elisabeth. Bertahun-tahun lamanya dia merindukan agar di Maastricht didirikan sebuah biara dimana Allah dapat diabdi dengan tulus ikhlas (bdk. EG 5). Bunda Elisabeth selama 15 sampai 16 tahun membawa dan menyatukan kerinduannya dalam doa yang terus menerus dan berkanjang (bdk. EG 2).

Dalam perjalanan sejarah Kongregasi, kita diajak untuk melihat, menyadari dan bersyukur betapa Allah telah bekerja dengan begitu indah dan memberikan yang terbaik menurut kehendakNya. Bunda Elisabeth telah mengawali perjalanan panjang Kongregasi kita ini dan kemudian diteruskan oleh para suster pendahulu. Apa yang telah dibuat dan diupayakan dalam seluruh perjalanan Kongregasi merupakan perwujudan dari kerinduan yang mendalam agar Allah dimuliakan. Hal ini ditegaskan dalam Konstitusi bahwa tujuan Kongregasi adalah agar Tuhan dimuliakan dengan menguduskan diri serta melaksanakan berbagai karya bakti untuk membantu sesama yang berkesesakan. Dengan demikian kita masing-masing dipanggil dan diutus untuk memuliakan Allah dengan mewujudkan dan menghidupi tujuan kongregasi dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini kita sebagai pribadi dan bersama akan melihat kembali perjalanan perutusan kita masing-masing: sejauhmana aku telah berupaya dengan segenap hati mewujudkan tujuan Kongregasi dalam hidup harianku? Tujuan kongregasi menjadi tujuan hidupku sebagai seorang religius CB. Kita dipanggil untuk senantiasa menimba kekuatan baru dari Yesus Kristus dan mempererat relasi pribadi denganNya. Ini menjadi senjata rohani kita dalam menghidupi dan mewujudkan perutusan kita di tengah masyarakat. Aspek mistik menjadi kekuatan yang mengalirkan aspek profetik dan aspek profetik menjadi perwujudan konkrit dari aspek mistik. Dengan demikian aspek mistik dan profetik menyatu dalam perutusan kita masing-masing dimanapun kita diutus dan dalam tugas apapun yang dipercayakan kepada kita.

Peristiwa 15 Agustus 1836 merupakan saat penting karena Allah memberikan persetujuannya dan Bunda Elisabeth mendengar persetujuan itu. Ini menjadi titik awal yang kemudian menggerakkan Bunda Elisabeth untuk mewujudkan dan menghidupi jawaban ‘ya’ dalam tindakan konkret menanggapi situasi nyata yang terjadi saat itu di Maastricht, misalnya pelayanan di Calvarieberg dan Panti Asuhan. Bagaimana dengan kita saat ini? Apa dan bagaimana kita menjawab ‘ya’ terhadap tawaran atau panggilan Allah yang bergema lewat situasi konkret saat ini?

Tujuan Kongregasi tidak hanya semata-mata melaksanakan berbagai karya bakti tapi juga mengajak kita masing-masing untuk menguduskan diri. Dua aspek ini menjadi muatan dari tujuan perutusan kita: menguduskan diri dan melaksanakan karya bakti. Konstitusi 69 menegaskan bahwa kerinduan untuk menanggapi panggilan Allah seperti yang tertuang dalam tujuan kongregasi mengungkapkan adanya keinginan untuk semakin berkembang dalam cinta kepada Allah dan sesama.
Anugerah Allah ini harus dikembangkan dalam proses yang berlangsung seumur hidup. Inilah bentuk bina diri yang perlu kita lakukan terus menerus. Pembinaan tidak hanya berhenti pada satu tahap tertentu. Tidak cukup kalau pembinaan atau bina diri hanya dilakukan dalam masa postulat-novisiat saja atau masa yuniorat saja namun harus berlangsung terus menerus seumur hidup (bdk. Konst 70).

Mengapa pembinaan atau bina diri menjadi aspek yang cukup penting dalam proses perkembangan kita sebagai religius? Konstitusi 71 menegaskan: “Partisipasi Kongregasi dalam melaksanakan perutusan Gereja akan menghasilkan buah paling lebat jika anggotanya mendapat pembinaan sedemikian rupa…”. Mengingat pentingnya pembinaan maka Kongregasi memfasilitasi terbentuknya Tim Pembinaan Internasional. Diharapkan Tim ini dapat bertanggung jawab menyelenggarakan program pembinaan Internasional yang sistematis, holistik, relevan dan menyatu. Dalam waktu dekat ini Tim Pembinaan Internasional akan mengadakan pertemuan bagi para pembina di bina awal untuk merefleksikan dan mengembangkan kemampuan spiritualitas serta psikologis mereka yang secara efektif akan diintegrasikan dalam kehidupan sebagai pembina. Kendati demikian, kita masing-masing bertanggung untuk memelihara bina diri sehingga kita bertumbuh dalam semua aspek kehidupan: spiritualitas, emosi, psikologi dan dalam karya pelayanan. Bina diri akan membantu kita untuk semakin mencintai Allah yang memanggil dan sekaligus kitapun semakin mencintai sesama yang dipercayakan kepada kita. Dengan demikian kitapun semakin dimampukan untuk menangkap apa yang menjadi Kehendak Allah dan mewujudkannya dalam perutusan sehari-hari.

Dunia sekitar kita menawarkan banyak hal, dan kita diberi kebebasan untuk memilih. Dengan bina diri yang berkanjang, dalam hidup doa dan diskresi, kita dimampukan untuk memilih apa yang terbaik menurut kehendak Allah. Apa yang terbaik bukanlah melulu apa yang sesuai dengan kehendakku bahkan kadang kala itu tidak sesuai dengan kehendak pribadiku. Namun Bunda Elisabeth mengajak kita untuk tetap memasuki ‘lorong gelap’ seperti yang dikatakannya dalam EG 140: “…kini aku mengembara dalam kegelapan malam, tetapi dengan keberanian hati dan mengikuti tuntunan pembimbing rohaniku, setiap hari kutebarkan jala ikanku. Dimuliakanlah Nama Tuhan selama-lamanya.”

Tanggal 15 Agustus juga kita rayakan sebagai Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Ajaran yang mengatakan bahwa Bunda Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badan merupakan suatu ungkapan dan keyakinan iman. Manusia kehabisan kata-kata untuk bisa menjelaskan dan mengungkapkan penghormatan dan penghargaannya atas keistimewaan Maria itu. Dari sekian banyak wanita, ia dipilih menjadi Bunda Allah. Kendati ia telah menjadi ‘orang pilihan’ namun dia tetap menjadi Maria yang dulu, seorang perempuan yang bersahaja, seorang perempuan yang sederhana, seorang perempuan yang rendah hati, seorang perempuan yang setia dan konsekuen dengan janji-janjinya, dan seorang perempuan yang senantiasa belajar untuk memahami Kehendak Allah.

Ketika murid-murid Yesus lari meninggalkan Dia, saat Ia ditangkap, disiksa dan disalibkan, apa yang dilakukan oleh Bunda Maria? Lari bersama-sama dengan mereka? Tidak. Maria tetap setia mendampingi Puteranya, bahkan di saat-saat akhir hidupNya. Ibu siapa yang tega menyaksikan puteranya difitnah, ditangkap, disiksa, disalibkan dan kemudian wafat di sana? Hanya Bunda kita Marialah yang bisa melakukan semua itu, dengan penuh ketabahan. Dari hari ke hari, dari peristiwa ke peristiwa ia terus menerus belajar dan ‘membina dirinya’ untuk memahami Kehendak Allah, bahkan banyak peristiwa yang mengajaknya untuk ‘menyimpan semua itu dalam hatinya’. Maria telah setia dan dengan penuh kepercayaan melaksanakan seluruh rencana Allah. Dan Allah berkenan memuliakan dia, mengangkat dia menjadi Bunda Gereja, mengangkat dia menjadi bunda kita semua.

Dalam peringatan hari bersejarah ini marilah kita kembali memperbaharui diri, dengan semakin mengupayakan bina diri secara pribadi dan bersama. Masing-masing dari kita mencoba menekuni perutusan yang dipercayakan kepada kita dengan terus menerus berusaha membangun relasi personal yang mendalam dengan Allah, mempertajam diri dalam berdiskresi dan berani menanggung konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Dengan demikian diharapkan semakin banyak orang yang akan mengalami kasih Allah lewat kehadiran dan pelayanan kita. Tujuan Kongregasi tidak lain adalah agar Tuhan dimuliakan melalui perutusan dan pelayanan kita. Semoga jawaban ‘ya’ kita semakin berkembang dalam kualitas sesuai dengan spiritualitas Bunda Elisabeth.

SELAMAT PESTA

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.