Maria Elisabeth Gruyters

Pendiri Kami: Maria Elisabeth Gruyters

Maria Elisabeth Gruyters (1789-1864), pendiri Kongregasi kami, dilahirkan pada tanggal 1 November 1789 di desa Leut, dekat sungai Mass, sekarang di Provinsi Limburg, Belgia. Orang tuanya, Nicolaas Gruyters dan Maria Borde memberinya nama Maria Elisabeth. Beliau dilahirkan dalam keluarga besar sebagai putrid ke empat dari delapan bersaudara. Mereka adalah orang-orang beriman yang saleh memegang tradisi-tradisi Kristiani dengan setia. Ketika Elisabeth Gruyters berumur 14 hari, dia dibawa kedua orang tuanya ke gereja untuk dibaptis.

Keluarga Gruyters saat itu telah tinggal cukup lama di Provinsi Limburg, Belgia. Mereka tergolong kelompok orang terpandang dan pendahulu di desa mereka. Ayahnya adalah seorang bendahara atau semacam pengurus sebuah puri di Leut. Posisi ini memberinya peran penting untuk mengatur segala harta benda pemilik kastil tersebut. Keluarga ini juga dikenal baik oleh masyarakat, bukan hanya karena Nicolaas Gruyters punya posisi melainkan karena mereka memiliki kualitas-kualitas hidup yang baik. Mereka menerima siapa saja yang datang ke rumah mereka dengan penuh keramahan dan kehangatan. Orang yang membutuhkan akan mereka bantu dengan penuh keikhlasan. Selain itu, mereka juga memiliki hubungan yang baik dengan sesama.

Kita hanya tahu sedikit saja tentang kisah Elisabeth di masa muda. Sekalipun demikian, berdasarkan fakta-fakta sejarah negara ini pada umumnya dan lingkungan di sekitanya pada khususnya, dapat dikatakan bahwa dia mengalami masa muda yang sulit. Situasi politik di Eropa saat itu pada umumnya sulit. Perang, kekerasan dan penderitaan di negara Prancis berdampak kekacauan di negara-negara sekitarnya.

Ketika Elisabeth Gruyters berusia 9 tahun (1796), Prancis menjajah Belgia, dan Gereja dianiaya. Pada usianya yang ke 12 tahun (1799), Napoleon menaklukkan Belgia. Saat itu adalah puncak peristiwa perang. Hingga saat ini kita masih dapat melihat ruangan-ruangan di bawah tanah di Kastil Leut, yang dulu digunakan sebagai tempat persembunyian bagi para korban kekerasan, khususnya orang-orang muda, yang dipaksa untuk bekerja rodi.

Terkait dengan pendidikannya, kita hanya tahu bahwa Elisabeth pernah mengecap bangku pendidikan, sekalipun tidak tinggi. Hal ini dapat dibuktikan karena dia dapat menulis dan juga membaca. Kita tidak meragukan pandangan ini karena kita dapat membaca kisah asal mulanya Kongregasi, yang ditulis dengan tangannya sendiri. Bukti ini dapat kita temukan pada alinea pertama dan kedua dari buku yang ditinggalkan Bunda Elisabeth sebagai warisan untuk Kongregasi. Dia menulis demikian, ‘Akan tetapi nampak bagiku, bahwa sebelum aku menulis di sini …’(EG 2).

Kemudian, pada usianya yang ke 32 tahun (1821) dia meninggalkan Leut menuju Maastricht, yang jauhnya kira-kira 18 kilometer. Situati di kota ini pun tidak jauh berbeda dari Leut. Maastricht-pun menderita dampak penindasan Prancis dibawah kepemimpinan Napoleon. Akibatnya, biara-biara dimusnahkan, sebagian besar gereja tidak dapat lagi merayakan Ekaristi. Para imam dan biarawati menghilang. Pendudukan dan perampasan yang berlarut-larut menyebabkan Maastricht menjadi miskin. Kehidupan militer menguasai dan masyarakat berada dalam kemiskinan dan kesusahan.

Di Maastricht Elisabeth selama bertahun-tahun bekerja sebagai pengurus rumah tangga seorang kaya, bernama keluarga Nijpels . Kenyataannya yang dikerjakannya lebih dari sekedar seorang pengurus rumah tangga, sikapnya adalah sikap seorang pelayan Tuhan. Hal ini jelas sekali ketika kita membaca pengalamannya selama dia tinggal bersama dengan ibu dan bapak Nijpels. Dia tidak hanya memelihara kebutuhan fisik mereka; melainkan juga prihatin akan kebutuhan rohani dan kesejahteraan dari keluara tersebut.

Jika dia memiliki waktu luang pada hari Minggu, dia juga pergi ke Calvarieberg untuk berdoa Rosario bersama orang-orang yang sakit. Pengalaman perjumpaan dengan keluarga Nijpels maupun para orang sakit di Calvarieberg merupakan dasar untuk mengikatkan diri pada Allah dengan cara melayani orang-orang, khususnya mereka yang mengalami penderitaan dan kesusahan.

Jika dia memiliki waktu luang pada hari Minggu, dia juga pergi ke Calvarieberg untuk berdoa Rosario bersama orang-orang yang sakit. Pengalaman perjumpaan dengan keluarga Nijpels maupun para orang sakit di Calvarieberg merupakan dasar untuk mengikatkan diri pada Allah dengan cara melayani orang-orang, khususnya mereka yang mengalami penderitaan dan kesusahan.

Kerinduannya menjadi sebuah kenyataan dengan berdirinya Kongregasi Suster-suster Cintakasih St. Karolus Borromeus, yang didirikannya bersama dengan dekan gereja St. Servatius, Paulus Antonius van Baer. Para anggota Kongregasi didedikasikan untuk perawatan orang sakit dan berkekurangan, serta pendidikan anak-anak miskin.

Elisabeth Gruyters wafat pada tanggal 26 Juni 1864. Hingga saat ini, dia telah meneruskan inspirasinya kepada para wanita lain yang, seperti dia, tergerak hati untuk melayani Allah dengan setia dengan cara melayani sesame. Hingga saat ini, Para Suster dari Kongregasi Bunda Elisabeth Gruyters ini telah tersebar di banyak tempat di dunia, mencoba mengikuti jejak-jejak kakinya, dan mewujudkan kharismanya sesuai dengan kebutuhan jaman dan tempat.

Kisah berdirinya Kongregasi kami, sebagaimana dituliskan oleh pendiri Elisabeth Gruyters, selama saat-saat terakhir hidupnya, mengandung kenyataan-kenyataan penting dan sekaligus merupakan kisah panggilan dan pertumbuhan spiritualnya sendiri.

 

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.