Indonesia Timur

Sejarah singkat
Struktur adalah sesuatu penting dalam rangka mengelola kehidupan dan perkembangan Kongregasi. Pada Kapitel Umum CB 1999, di Filipina, telah diputuskan bahwa “Dewan Pimpinan Umum, bersama-sama dengan Dewan Pimpinan Kawasan, meneliti perlunya struktur kepemimpinan yang baru yang lebih desentralisasi, khususnya kawasan yang besar. Keputusan ini kembali bergema dan ditekankan selama Kapitel Umum 2005 dengan rekomendasi “Indonesia Timur dikukuhkan sebagai Regio baru. Proses pendirian Regio baru ini dilaksanakan dalam koordinasi dengan Provinsi Indonesia “.

Setelah membicarakan beberapa aspek yang menjadi pertimbangan kami, Dewan Pimpinan Umum dalam koordinasi dengan Dewan Pimpinan Provinsi Indonesia merealisasikan rekomendasi ini. Dengan iman yang besar akan penyelenggaraan Illahi, Regio Indonesia Timur diresmikan pada tanggal 7 Oktober 2007. Ketika Regio ini resmi dibuka, jumlah suster yang ada di Kawasan ini 35 suster..

Kehidupan spiritual dan doa juga ditekankan dalam semua program pembinaan, termasuk program pembinaan untuk yunior dan pembinaan terus menerus untuk semua suster yang sudah berkaul kekal. Memperdalam kehidupan spiritualitas dan doa juga ditekankan dalam setiap komunitas. Penekanan yang sama juga dalam hal pendalaman spiritualitas dalam pelayanan kerasulan.

Pembinaan merupakan bagian yang menyatu dalam kehidupan kami sebagai religius. Ini adalah proses perjalanan kami seumur hidup untuk mencapai kedewasaan baik sebagai pribadi maupun sebagai seorang religius yang hidup dalam Kongregasi ini. Penurunan jumlah keanggotaan dan kecenderungan penurunan jumlah calon di Kawasan Indonesia Timur, membuat para suster di kawasan ini mempertimbangkan promosi panggilan sebagai kegiatan yang penting. Sejak didirikan rumah pembinaan awal di Kupang, yang dimulai pada tahun 2001, jumlah calon yang berasal dari wilayah Indonesia Timur bervariasi.

Dalam kawasan para suster terlibat dalam beberapa pelayanan kerasulan. Meskipun terbatas jumlahnya, para suster terlibat dalam bidang kesehatan, pendidikan, pembinaan dan karya pastoral-sosial. Para suster berusaha untuk merespon tanda-tanda zaman dengan cara melebur ke dalam realitas masyarakat melalui pelayanan kerasulan mereka. Mereka sadar bahwa pelayanan kerasulan adalah kunci untuk membuka pintu hati masyarakat. Dalam bidang kesehatan kawasan ini berkarya di 3 klinik dan 1 pos pelayanan kesehatan di 4 keuskupan yang berbeda. Selain klinik ini, yang merupakan milik oleh Kongregasi, masih ada 2 klinik lain milik keuskupan yang dikelola oleh para suster. Hal ini sangat jelas bahwa dalam karya kerasulan kami, masih menjawab kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan Spiritualitas Kongregasi.

Bersama Bunda Elisabeth kami dapat mengatakan,”… Hambatan-hambatan masih ada juga dan sampai sekarang pun keadaannya belum dapat dikatakan lancar.

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.