Surat Basis Juni 2014

Dalam Surat Basis bulan Juni 2013 yang lalu, kami mengajak Anda semua untuk membuat rencana kegiatan dalam rangka menyongsong peringatan 150 tahun wafat pendiri kita, Bunda Elisabeth. Hari ini, saatnya sudah tiba bagi kita untuk merayakan peristiwa khusus tersebut dengan penuh syukur dan sukacita.

Beberapa suster secara khusus sudah mengungkapkan makna peringatan 150 tahun wafat Bunda Elisabeth. Mereka mengalami dihadapakan pada beberapa pertanyaan yang menantang. Apakah sebagai pengikut Bunda Elisabeth sudah menghayati dengan sepenuhnya charisma, visi dan misinya. Apakah mereka meneruskan mimpi-mimpinya? Bagaimana mereka membagikan hidup spiritual-nya kepada orang lain? Apakah mereka sudah merasa pantas untuk menyebut diri anggota dari Kongregasinya? Bukankah pertanyaan-pertanyaan ini pada prinsipnya juga berlaku bagi kita semua?

Para suster yang terkasih, salah satu buah manis dari peringatan 150 tahun ini adalah pembaharuan kembali identitas kita sebagi CB. Kita bersyukur bahwa sesudah satu setengah abad kematiannya Kongregasi kita tetap hidup. Kenyataan ini menguatkan keyakinan kita bahwa kematian tidak memisahkan Bunda Elisabeth dari pencinta hatinya yang manis, Yesus Kristus. Pengalamannya akan cinta lebih kuat dari maut bergaung lagi secara kuat dalam peristiwa ini (bdk EG 106). Iman yang kuat ini tentulah menjadi sumber kekuatan juga bagi kita para pengikutnya. Keyakinan ini menjadi fondasi yang kuat bagi kita yang sudah berkomitmen penuh untuk menjaga keberadaan Kongregasi dan meneruskan pejiarahan misinya di dunia ini.

Pengalaman Bunda Elisabeth akan cinta Yesus Sang Tersalib adalah pusat dalam hidupnya dan sekaligus menjadi sumber hidup rohaninya. Sangatlah jelas bagi kita bahwa dia tidak pernah membiarkan sumber itu mengering dengan cara selalu memelihara relasi intimnya dengan Tuhan. Bagaikan wanita dipinggir sumur, dia rindu untuk senantiasa dipuaskan dahaganya dengan air kehidupan. Dari sumur yang sama ini pula kita pun diundang untuk minum dan mereguk inspirasi darinya. Dengan ini identitas kita sebagai CB dikuatkan; identitas yang kita rangkul kembali sesudah 150 tahun wafatnya. Kita percaya penuh bahwa spiritualitasnya masih sangat relevan untuk jaman ini.

Para suster yang terkasih, untuk memperkaya refleksi kita pada hari berahmat ini, marilah menimba pesan dari Himbauan Apostolik Sukacita Injili dari Bapa Paus yang dikeluarkan baru-baru ini. Paus Fransiskus membuka ajakannya dengan mengatakan “Sukacita Injili memenuhi hati dan hidup mereka yang berjumpa Yesus. Mereka yang menerima tawaran keselamatan dari Dia terbebas dari dosa, penderitaan, kekosongan batin dan kesepian. Dengan Kristus sukacita selalu dilahirkan kembali” (terjemahan bebas).

Dari himbauan untuk berbagai sukacita Injili ini paling tidak kita dapat merefleksikan dua hal penting yang dulu nampak dalam kehidupan Bunda Elisabeth. Pertama-tama kita diajak untuk mempunyai relasi yang dekat dan konstan dengan sang sumber sukacita, Yesus Kristus, Tuhan kita. Dalam Dia kita menemukan sumber sukacita yang memungkinkan orang mereguknya. Kita percaya bahwa sukacita sejati hanya akan dialami apabila seseorang memelihara kedekatan relasi dengan Tuhan. Dari Dialah sukacita sejati mengalir untuk menawarkan dahaga kita yang haus akan kebahagian abadi. Yang diminta dari kita hanyalah upaya untuk senantiasa membangun relasi yang baik dengan Dia. Marilah kita senantiasa sadar untuk tetap berada dalam kesatuan dengan Dia sebagaimana yang dikatakanNya “tinggallah dalam Aku seperti Aku tinggal dalam kamu”. Inilah relasi yang sesungguhnya, apabila kita senantiasa menjaga kesatuan dengan Dia. Apabila kita tingga di dalam Dia, kita akan menghasilkan banyak buah. Buah-buah yang akan membawa pada sukacita abadi. (Bdk. Yohanes: 15;4-11). Pertanyaannya adalah seberapa kuat relasi personal kita dengan Yesus Kristus? Apakah relasi ini membuahkan sukacita? Atau adakah ‘sukacita palsu’ yang memenuhi hati kita selain sukacita yang bersumber pada Yesus yang bangkit?

Kedalaman relasi Bunda Elisabeth dengan Yesus sang sumber sukacita tentunya tidak perlu diragukan lagi. Yesus senantiasa menjadi pusat dalam hidupnya, bahkan jauh sebelum Kongregasi ada. Keteguhan dekatnya relasi dia dengan Tuhan bahkan dibuktikan pada situasi sulit yang dihadapinya. Kita berani mengatakan kasih dan pemberian dirinya semakin teruji pada saat mengalami pencobaan. Dengan tegas Dia mengatakan bahwa tidak ada yang dapat memisahkannya dengan cinta Kristus. Relasinya dengan Kristus tidak terpisahkan. Coba kita dengar sekali lagi keteguhannya ketika mengalami penderitaan. Dia mengatakan “siapa yang dapat memisahkan aku dari cinta Allah?…bukan…bukan …bukan api bukan pedang…Tidak ada yang sanggup memisahkan aku dari cinta Allah” (EG 106). Barangkali kita dapat membandingkan diri dengan pengalaman dia apabila berada pada situasi yang sama. Dengan demikian kita mempunyai gambaran seberapa dalam relasi kita dengan Allah.

Poin kedua yang dapat direfleksikan adalah upaya untuk berbagi sukacita kepada orang lain. Sukacita injili bukanlah rahmat yang bersifat eksklusif. Sekali dianugerahkan rahmat ini juga akan terpancar ke sekitar kita. Kita diminta untuk membagikan anugerah ini kepada orang lain, karena buah kasih tidak pernah terisolasi dalam kesempitan cinta diri. Sukacita kita akan menjadi sempurna ketika kita bagikan kepada sesama. Dalam hal ini terlihat adanya kenyataan paradoksal. Dengan berbagi kita tidak akan berkekurangan melainkan mengalami kepenuhan. Kenyataan ini dapat dipahami karena sumber dari sukacita kita yang ilahi. Sekali lagi kita diteguhkan dengan kata-kata Yesus: ”Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh”. (Yoh 15,11).

Salah satu tantangan besar didunia dewasa ini adalah menemukan sukacita yang sesungguhnya ditengah perkembangan modernisasi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita merasa berterimakasih atas banyak hal baik yang disumbangkan oleh kemajuan teknologi dan komunikasi. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak pengaruh negative yang ditimbulkan-nya. Setiap detik masmedia menyuguhkan tawaran yang mereka reklamekan sebagai upaya mencapai kebahagiaan. Ada beribu-ribu hasil produksi yang mereka dengungkan sebagai sumber sukacita dan kepuasan bagi hidup seseorang. Demikian juga ada banyak pemimpin dunia yang menyatakan diri sebagai pembela kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat sementara mereka tidak memedulikan penderita-an banyak orang. Pendek kata ada banyak jalan yang ditempuh manusia untuk mencari sukacita. Sayangnya banyak orang hanya menemukan sukacita duniawi dan gagal mendapatkan sukacita sejati.

Ditengah tantangan jaman ini, apa yang dapat kita lakukan? Kita tentu saja tidak dipanggil untuk memecahkan masalah-masalah besar dan sulit di dunia ini. Apalagi kita tidak mempunyai kekuatan untuk menghentikan banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi disekitar atau pun menghindari peristiwa-peristiwa menyedihkan di muka bumi ini. Yang masih dapat kita lakukan adalah berbagi hidup kita sendiri. Perjumpaan kita dengan Yesus dapat kita bagikan kepada orang lain. Mencintai orang lain sebagaimana Yesus mencintai kita dapat menjadi wujud kesaksian kita pada sesama.

Oleh karena itu, para suster yang terkasih, marilah kita memulai dari diri sendiri dengan berbagi sukacita dan kasih. Cara-cara sederhana dapat mulai kita lakukan saat ini. Kita dapat berbagi mulai dari yang paling dekat yaitu komunitas sendiri. Mungkin ada satu atau dua suster di komunitas yang memerlukan pantulan sukacita kita. Berikan kepada mereka sebuah senyum yang tulus atau sentuhan kasih kepedulian, sebuah doa pendek, atau pun sapaan dari hati. Ungkapan perhatian yang sederhana seringkali dapat membuahkan hal-hal besar pada mereka yang sedang putus asa. Pelayanan kerasulan kita dimulai dari sini, berbagai kasih dan sukacita.
Dari komunitas radiasi sukacita dapat diperlebar. Kita dapat berbagi dengan orang lain yang kita temui. Para karyawan, warga paroki, muda-mudi, para murid, pasien dan semua orang yang kita jumpai. Marilah kita terangi dunia yang suram ini dengan memberinya secercah cahaya sukacita. Jika setiap suster dapat berbagi meskipun hanya setitik, kita percaya bahwa Kongregasi dapat meringankan beban banyak orang.

Seiring rasa syukur dalam peringatan 150 Tahun wafat Bunda Elisabeth ini, marilah kita membaharui komitmen untuk menjadi alat kasih belarasa Allah. Marilah kita tandai hari rahmat ini dengan sumbang sih sederhana untuk ikut serta menciptakan dunia yang lebih baik dengan menjadi agen penyebar sukacita dan kasih.

Kami ucapkan terimakasih atas upaya para suster untuk membuat hari ini istimewa. Semoga buah-buah dari perayaan ini memperkaya baik diri sendiri maupun orang lain di sekitar kita.

SELAMAT PESTA

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.