Surat Basis Juni 2013

Tanggal 26 Juni 2013 kita memperingati 149 tahun wafatnya Bunda Elisabeth sekaligus membuka moment bersejarah menyongsong perayaan 150 tahun wafat beliau pada tanggal 26 Juni 2014 yang akan datang. Ini tentu saja merupakan hal yang sangat istimewa bagi Kongregasi kita di seluruh dunia. Oleh karena itu kami mengajak para suster memaknai peristiwa rohani ini dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur.

Mengapa merayakan 150 tahun yubileum wafat Bunda Elisabeth dipandang begitu penting?

Dalam Kitab Suci, angka 150 merupakan angka istimewa. Dalam Kitab Kejadian tertulis: “Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya.” (Kej. 7: 24). Teks ini mengisahkan tentang Allah yang memiliki rencana efektif untuk membinasakan semua makhluk dalam air bah karena kefasikan manusia yang tidak dapat ditoleransi. (Kej. 6: 13-17) Allah memilih dan membimbing Nabi Nuh, seorang yang benar dan adil, untuk membangun sebuah bahtera yang kedap air, berukuran panjang 133 meter, lebar 22 meter dan tinggi 13 meter. Bahtera itu mungkin berkapasitas sama seperti berbagai kapal kargo besar pada zaman sekarang.

Iman Nuh tidak goyah sewaktu ia diberi tahu tentang maksud dan tujuan Allah itu. Ia yakin bahwa bencana yang belum pernah terjadi ini pasti akan datang. Nuh menaati perintah Allah. Membangun sebuah bahtera tentu bukanlah tugas yang mudah. Meskipun begitu,”Nuh melakukannya menurut semua yang Allah perintahkan.” Bahkan, ”ia melakukannya tepat seperti itu” (Kej. 6: 22). Nuh memenuhi perintah Allah untuk membangun bahtera itu dengan seksama dan terperinci. Nuh melakukan hal ini dengan dibantu istri dan putra-putranya, Sem, Ham, dan Yafet serta istri-istri mereka.

Nuh bukan hanya membangun bahtera, ia juga menyuarakan suatu peringatan dan melayani Allah dengan setia sebagai ”pemberita keadilan dan kebenaran”. Namun, orang-orang mengabaikan dia. Mengingat kebobrokan rohani dan moral pada zaman itu, tidak sulit membayangkan bagaimana keluarga Nuh mungkin menjadi bahan tertawaan para tetangga yang skeptis dan menjadi sasaran ejekan serta cercaan. Pastilah ia dianggap bodoh dan gila. Namun ia tidak gentar. Nuh berhasil dalam memberikan anjuran dan dukungan rohani kepada keluarganya.

Tidak lama sebelum hujan turun, Allah memberi tahu Nuh untuk masuk ke dalam bahtera. Setelah keluarga Nuh dan binatang-binatang berada di dalam bahtera, ”Allah menutup pintu”, sehingga para pengejek itu tidak bisa masuk, dan ketika banjir itu datang maka tersapu-bersihlah mereka semua”. (bdk. 2 Petrus 2:5; Matius 24:38, 39). Hujan turun selama empat puluh hari empat puluh malam sehingga air memenuhi muka bumi selama seratus lima puluh hari. Hanya Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang yang ada dalam bahtera itulah yang selamat. Sewaktu berada di bahtera, tidak diragukan bahwa Nuh memimpin keluarganya dalam memaknai pengalaman ini dan bersyukur kepada Allah.

Kisah penyelamatan Allah terhadap Nuh dan keluarganya ini dapat menjadi inspirasi menarik untuk merenungkan karya penyelamatan Allah terhadap Bunda Elisabeth berkat bahtera Kongregasi yang telah dibangunnya. Meskipun kedua tokoh ini hidup pada jaman yang sangat berlainan, dalam beberapa hal keduanya memiliki beberapa aspek yang kurang lebih sama. Mereka adalah orang yang benar, adil, dan setia; keduanya percaya akan Allah dan senantiasa berjalan bersamaNya, mereka dengan taat mendengarkan dan melaksanakan perintah Allah, dan mereka adalah nabi karena mampu menyuarakan kebenaran dan keadilan, serta bersyukur.

Bunda Elisabeth wafat pada usia hampir 75 tahun. Saat itu usia profesi beliau adalah 25 tahun sekian bulan. Secara psikologis seorang perempuan yang berusia 25 tahun sudah terbilang lebih stabil, mengerti akan kewajiban dan tanggung jawab, serta dewasa dan percaya diri dalam menghadapi hal-hal yang dijumpai dalam perjalanan hidupnya. Sifat keibuannya pun semakin matang. Demikian juga Kongregasi kita. Selama 25 tahun lebih Bunda Elisabeth telah mengalami Allah yang mendampingi dan memimpin Kongregasi. Jumlah anggota Kongregasi pun bertambah. Dan ketika Bunda Elisabeth wafat jumlah anggota Kongregasi telah mencapai 54 suster. Kongregasi memang tumbuh dan berkembang tetapi bagi Bunda Elisabeth bukan pertumbuhan dalam jumlah yang pertama-tama menjadi perhatian dan cita-citanya. Baginya pertumbuhan dan perkembangan dalam hidup rohanilah yang paling utama. Karena itu, bagi Bunda Elisabeth, hal terpenting yang menjadi dasar dibangunannya bahtera Kongregasi adalah bertumbuhnya kesatuan dengan Yang Ilahi terutama dalam diri anggota-anggotanya. Sebagaimana ia sendiri bertumbuh dalam memahami kehendak Allah, ia juga bertumbuh dalam menemukan cara-cara mewujudkan cinta akan Allah itu melalui doa, perjumpaan, dan pelayanannya baik dalam komunitas maupun Gereja dan masyarakat.

Seperti Nabi Nuh, Bunda Elisabeth adalah pribadi yang mencintai dan mewartakan kebenaran dan keadilan: benar dan adil dalam mencintai Allah serta benar dan adil dalam melayani sesama. Anak-anak miskin dan terlantar perlu mendapat kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan yang holistik (bdk. EG 51 – 53, 146, 149). Orang-orang yang menderita sakit perlu dikunjungi, didoakan, dirawat dengan baik dan dimenangkan jiwanya (bdk. EG 27 – 37, 108 – 121). Para suster yang dipercayakan kepadanya: dilengkapi dengan senjata rohani agar tidak dinodai kejahatan duniawi, didampingi dan didukung dengan anjuran-anjuran rohani agar mampu melayani dengan baik, dibela apabila mendapat perlakuan tidak adil, serta para suster yang mengalami tantangan dan kesulitan didekatinya dengan sikap lemah lembut dan bela rasa (bdk. EG 70, 76, 107, 133, 146-149, 155).

Dengan demikian nilai-nilai kebenaran, keadilan, kedamaian dan belas kasih merupakan nilai-nilai mendasar dalam komitmen hidup religius. Hal itu akan berbicara lebih nyata karena disertai dengan sikapnya yang rendah hati dan gaya hidupnya yang konsisten. Dengan demikian Kongregasi mampu menjadi sumber berkat yang berlimpah baik bagi para anggotanya maupun bagi sesama tanpa mengenal batas usia, kondisi fisik/psikologis, ras, agama dan status sosial, sebagaimana Allah berbelaskasih dan mencintai setiap manusia tanpa mengenal batas dan syarat.

Bunda Elisabeth memiliki kesederhanaan dan kelugasan visi. Motivasi dan cara berfikirnya tidak rumit atau berbelit-belit, tidak berpura-pura, dan memiliki fokus yang jelas. Gaya hidup dan bertindaknya juga sederhana dan jelas, terutama dalam mengikuti dan memenangkan kehendak Allah. Dia adalah seorang perempuan yang berpikiran sehat, yang mampu membaca dan menulis dengan baik. Tulisannya lebih merupakan frase, kadang kurang runtut, serta mengundang tawa. Hal ini menunjukan keaslian atau otentisitas dirinya. Seperti itulah beliau. Cinta yang tak bersyarat dan tanpa batas dari Allah melalui Yesus Kristus yang Tersalib senantiasa menjadi penggerak atau motivasi tindakan dan perkataan yang mewarnai setiap rangkaian kalimat yang kita temukan di setiap halaman bukunya yang sederhana itu. Sebagaimana terhadap Nuh, Allah menggerakkan Bunda Elisabeth untuk melayani Dia.

Seperti Nuh, Bunda Elisabeth adalah pribadi yang senantiasa bergaul dengan dan berjalan bersama Allah (walk constantly with God). Orang yang hidupnya senantiasa bergaul bersama Allah berarti juga mempercayakan diri pada Allah. Ia senantiasa mengandalkan Allah yang ’memelihara kita agar tetap hidup’ dan menyediakan segala sesuatu yang benar-benar kita butuhkan. (bdk. EG 15, 23-24, Mzm. 84: 11; 119: 37). Ia menjadi akrab dengan Allah. ”Keakraban dengan Yahwe adalah milik mereka yang takut akan Dia” kata pemazmur (Mzm. 25:14). Takut atau takwa akan Allah membawa Bunda Elisabeth terus membangun hubungan dengan Allah hingga ke tingkat ke-akrab-an yang benar-benar kuat, hingga membuatnya memahami dengan hati sikap Allah yang terbuka dalam memberitahukan rencana dan rancanganNya (bdk. EG 6).

Dengan demikian kita belajar bahwa hidup takut (takwa) akan Allah adalah hidup yang diberkati secara luar biasa. Bergaul akrab dengan Allah dan mengerti perjanjian yang telah Ia berikan adalah berkat yang sangat indah yang akan menjadi kekuatan dalam kehidupan Kongregasi. Memiliki Bunda pendiri yang saleh dan takwa tidak menjamin bahwa kita akan memiliki kerohanian yang baik, karena setiap orang harus membangun hubungannya sendiri dengan Allah. Ini memang bukan hal yang mudah. Tetapi kita percaya akan rahmat Allah yang senantiasa berkarya dalam diri kita masing-masing. Allah menciptakan kita menurut gambarNya sendiri agar kita dapat mengenal dan menanggapiNya. Dia membangun unsur-unsur dalam kepribadian kita yang selaras dengan kepribadianNya. Kita mempunyai pemikiran untuk mengerti dan menanggapi pemikiranNya. Kita juga punya kehendak untuk menanggapi kehendakNya. Allah membuka diri untuk dikenal, dan membuka tawaran untuk bersahabat akrab atau bergaul karib denganNya. Apakah kita mau menyambut uluran tangan Allah ini atau tidak, semua itu tergantung diri kita sendiri. Yang pasti, Allah akan sangat gembira apabila kita mau menyambutNya dan menjadikan Dia sebagai Sahabat yang akrab dengan kita.

Akhirnya, kita juga melihat aspek lain, yakni: rasa syukur. Sebagaimana Nuh, Bunda Elisabeth juga merupakan pribadi yang mampu bersyukur kepada Allah. Bunda Elisabeth mengenal Allah sebagai: yang memelihara kehidupan dan yang mengatur segala sesuatu (bdk. EG 26, 32). Allah memanggil, mendampingi, dan memberkati setiap hari dengan apa yang mereka butuhkan (bdk. EG 49, 63). Allah yang memelihara orang miskin (bdk. EG 52) dan Allah yang mengasihi manusia tanpa syarat dan tidak mengenal batas (bdk. EG 30 – 41). Pengalaman-pengalaman ini membuatnya mampu mengambil bagian dalam derita Allah akibat kekerasan hati manusia (bdk. EG 100) dan membuatnya memilih untuk senantiasa berada bersama Yesus (bdk. EG 140).

Ungkapan-ungkapan syukur Bunda Elisabeth tidak bersifat artifisial. Ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak tidur. Dalam keadaan yang sulit atau mudah, menyenangkan atau menyusahkan, sakit atau sehat, kita diundang untuk tetap dengan penuh iman percaya akan penyertaan Allah. Allah memiliki cara-cara yang istimewa untuk menyatakan keselamatanNya. Ia juga mempercayai kita, karena itu memilih dan mendampingi kita masing-masing sekalipun kita tidak sempurna.

Para suster yang terkasih, melalui peristiwa berahmat ini kita mau mengungkapkan kesatuan dan persekutuan kita dengan Bunda Elisabeth dan komunitas pertamanya. Kita juga mau menghormati para suster pendahulu kita yang telah hidup dan akhirnya pulang ke pangkuan Allah. Kita bersyukur atas rahmat-rahmat yang memungkinkan kita tetap mengalami relasi Allah. Bunda Elisabeth dan para Suster ini telah mengukir sejarah, kisah dan kenangan, baik tertulis maupun lisan di dalam kehidupan Kongregasi. Kisah dan kenangan mereka ini, menurut cara dan kekhasan pribadi mereka, telah menunjukkan kepada kita potret-potret perempuan yang dengan sepenuh hati, jiwa, dan tenaga mereka memiliki kasih dan belarasa kepada Yesus yang Tersalib, hingga akhir hidup mereka. Kita merayakan dan mensyukuri iman dan kebulatan hati mereka, serta menghargai kenangan-kenangan doa dan rekreasi bersama. Kita menganggap diri kita terberkati sebab kita telah mengambil bagian dalam pergulatan-pergulatan yang menguatkan mereka dan menjadi inspirasi bagi kita.

Sebagai penutup, dalam rangka menyongsong perayaan 150 tahun wafatnya Bunda Elisabeth, kami mengajak para suster di semua tingkat untuk terlibat dalam gerakan Kongregasi di berbagai tingkat sesuai dengan situasi dan kondisi Kawasan masing-masing dengan cara mengadakan beberapa kegiatan sebagai berikut:

Di tingkat umum:

  1. Menjadikan tahun ini sebagai tahun Yubileum Kongregasi dengan tema: “Pujilah Tuhan dengan hati yang penuh syukur!” (bdk. Mzm. 150, EG 139). Tema ini akan didalami melalui berbagai kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi komunitas, doa, dll.
  2. Mengadakan Jam Suci atau doa Novena yang dimulai pada tanggal 26 Juli 2013 dan berakhir pada tanggal 26 Mei 2014.
  3. Merayakan Misa Syukur pada tanggal 26 Juni 2014. Pada perayaan Misa ini kami mendorong para Suster (sesuai dengan situasi masing-masing) untuk mengundang kaum muda, para karyawan atau mitra karya kerasulan dan dilanjutkan dengan open house.
  4. Menyertakan dalam doa harian intensi doa khusus untuk panggilan.
  5. Membuat kompilasi booklet refleksi berdasarkan inspirasi dan Kharisma Bunda Elisabeth dalam bentuk doa, puisi, prosa, lagu dan gambar meditatif sebagai puncak perayaan Yubileum kita.

Di tingkat komunitas/unit/region/provinsi:

  1. Mendorong para Suster untuk membuat refleksi berdasarkan inspirasi dan Kharisma Bunda Elisabeth dalam bentuk: doa, puisi, prosa, lagu dan gambar meditative, serta mengirimkannya kepada Dewan Pimpinan Umum.
  2. Menulis artikel tentang inspirasi dan karisma Bunda Elisabeth dan mempublikasikannya di surat kabar, majalah, dll
  3. Secara kreatif membuat kisah tentang para suster yang telah dipanggil Tuhan.
  4. Menyelenggarakan sebuah seminar untuk orang muda dengan tema seputar: Perempuan dalam kisah, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap Bunda Elisabeth.
  5. Nonton bareng bersama anak-anak muda, DVD film dokumenter Kongregasi, Arches and Bridges.
  6. Melakukan ziarah ke makam Bunda Elisabeth dan atau para suster pendahulu
  7. Bersama para karyawan atau mitra karya menanam 150 jenis pohon (pohon buah-buahan) sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan kepedulian kita terhadap bumi.

Hendaklah kita tetap percaya akan Allah dan tetap saling memberi dorongan dan saling menguatkan untuk menunjukkan kasih dan melakukan perbuatan baik. Dimuliakanlah Nama Tuhan untuk selama lamanya. Amin.

Selamat Pesta