Surat Basis April 2014

Pada tanggal 29 April 2014, kita memperingati peristiwa bersejarah dalam Kongregasi kita. Peringatan ini menjadi kesempatan bagi kita untuk merenung, menggali dan memaknai pengalaman rohani dalam Kongregasi, yang mengingatkan kita akan peristiwa 177 tahun lalu. Tepat pada tanggal 29 April 1837, Bunda Elisabeth Gruyters mendirikan Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus di Maastricht. Pertama-tama, permenungan kita bertitik tolak dari sejarah Kongregasi.

29 APRIL 1837 PESTA St. Petrus, martir. Meskipun orang telah membicarakan bahwa kami miskin,Kota Maastricht telah menjadi kota tertutup sejak enam tahun berselang dan tak dapat diha-rapkan adanya perubahan, namun Tuhan memberi kami berdua keberanian dan kekuatan untuk mengawali karya ini (EG 46).

Peristiwa di atas mengungkapkan dua hal penting. Pertama, menggambarkan situasi Maastricht sebagai ‘kota tertutup’. Kedua, menceritakan bahwa Allah telah memberi anugerah keberanian dan kekuatan untuk mengawali berdirinya Kongregasi.

Dari sejarah kita mengetahui bahwa pada masa itu Belanda berada dalam situasi krisis karena dampak dari terjadinya Revolusi Perancis di Eropa. Situasi kota Maastricht pada waktu itu terekam jelas dalam EG 46, 51, 52, 27 & 28.

Beberapa alinea dari EG tersebut di atas menunjukkan bahwa Maastricht ada dalam situasi ‘khaos’. Kata ‘khaos’ berasal dari Bahasa Yunani yaitu Xaos, yang berarti situasi kacau dan tidak teratur. Namun justru dalam situasi krisis ini Bunda Elisabeth diberi anugerah keberanian dan kekuatan iman untuk mendirikan Kongregasi. Apa yang menjadi kekuatan dalam diri Bunda Elisabeth sehingga ia berani memutuskan untuk berkata YA terhadap tawaran atau panggilan Allah dalam situasi konkrit saat itu?

Bunda Elisabeth mengungkapkan bahwa pengalaman cinta Allah (bdk. EG 39 dan 41) menjadi kekuatan dalam dirinya. Bunda Elisabeth mengalami betapa Allah mencintai dia tanpa syarat (bdk. EG 94 dan 98). Melalui proses penegasan rohani dan doa yang terus menerus di hadapan Allah, Bunda Elisabeth dimampukan berkata YA atas undangan dan perutusan Allah. Pada beberapa bagian lain dari bukunya, kita dapat menemukan bahwa proses penegasan rohani (=diskresi) selalu dilakukan oleh Bunda Elisabeth (bdk. EG 8, 11, 17, 149, 150, 156).

Situasi yang ‘khaos’ atau krisis di Maastricht pada saat itu menjadi medan pelayanan dan pemberian dirinya bagi Allah. Bunda Elisabeth hadir dan menghadirkan dirinya sebagai utusan Allah yang memberi harapan di tengah dunia yang ‘khaos’ atau krisis.

Kalau kita kembali ke sumber keberadaan hidup kita sebagai pengikut Kristus, kita dapat belajar dari Kitab Suci. Nabi Yesaya memberi gambaran bagaimana tugas perutusan seorang Hamba Allah yang hadir memberi harapan di tengah dunia. Gambaran ini dapat ditemukan dalam Yesaya 42: 3-4: “… buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi…”. Walaupun seolah-olah tidak ada harapan, namun perutusan seorang Nabi memberi harapan baru.

Mateus dan Lukas (bdk. Mat 6:25-34; Luk 12:22-31) juga mengingatkan kita untuk tidak kawatir karena Allah telah menyediakan apa yang kita perlukan. Kadang kita menjadi cemas dan kawatir ketika menghadapi situasi yang tidak jelas atau tidak nyaman. Injil Mateus dan Lukas mengajak kita untuk berani bersikap lepas bebas, beriman dan percaya kepada Allah.

Bagaimana kita membawa semangat Bunda Elisabeth dalam hidup dan perutusan kita di masyarakat saat ini?
Sebagai religius, kita diberi rahmat untuk mengikuti Yesus Kristus secara lebih dekat. Kita mengalami cinta Allah yang total dan tanpa syarat sebagaimana digambarkan Bunda Elisabeth dalam EG.94 dan 98. Kita diajak menimba kekuatan dari dan dalam Yesus Kristus sendiri, seperti halnya Bunda Elisabeth yang selalu menimba kekuatan dari Kristus (bdk. EG 39 dan 41; Yoh 4: 4-15).

Hidup sebagai religius merupakan suatu pilihan dan sekaligus menjadi saksi bagi orang-orang jaman ini. Sebagai religius, kita tidak hanya dipanggil namun juga diutus. Perutusan kita adalah terlibat dan ambil bagian dalam karya keselamatan Allah yang diwujudkan secara konkrit dalam karya kerasulan dengan melayani sesama yang membutuhkan. Kita dapat belajar dari Bunda Elisabeth. Ia mampu membuat keputusan yang tepat dan mewujudkan perutusannya sebagai nabi di jamannya karena ia selalu berdiscernment dan berdoa. Ia membuka pintu dan menerima kehadiran anak-anak miskin bahkan merawat mereka secara jasmani dan rohani. Bunda Elisabeth mendorong mereka untuk makin berkembang ke arah hidup yang baik serta melatih mereka dengan ketrampilan seperti menjahit, dst. Semua pelayanan bagi orang miskin menjadi tindakan profetik Bunda Elisabeth.

Kita sebagai putri-putri Bunda Elisabeth diutus untuk menghidupi dan meneruskan semangatnya di tengah orang-orang jaman ini.
Semoga peringatan peristiwa bersejarah dalam Kongregasi yaitu 29 April 2014 menjadi kesempatan bagi kita untuk memaknai peristiwa rohani ini dan menggerakkan kita untuk mewujudkannya, baik dalam hidup berkomunitas maupun dalam kerasulan yang dipercayakan kepada kita masing-masing.

SELAMAT PESTA!

Tinggalkan balasan

Informasi pribadi anda tidak akan dipublikasikan. Tanda * wajib diisi.